Polri dan Petugas Kesehatan Tembus Desa Terisolasi di Watupayung Aceh Tengah

Polri dan Petugas Kesehatan Tembus Desa Terisolasi di Watupayung Aceh Tengah

Jejak WaktuPolri bersama petugas kesehatan Polres Aceh Tengah menembus medan ekstrem untuk menjangkau Desa Watupayung, salah satu desa terisolasi pascabanjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Akses jalan menuju desa itu putus total sehingga mobilitas warga terganggu dan pelayanan dasar seperti kesehatan nyaris tak tersentuh. Petugas harus melewati jalur sangat berat, jalan licin dan berlumpur, bahkan berjalan kaki berjam‑jam demi memberikan layanan kesehatan kepada warga yang selama berhari‑hari terputus dari dunia luar.

Fokus Penanganan Medis Terhadap Anak dan Warga

Salah satu fokus utama tim adalah memberikan pelayanan medis kepada bayi berusia lima bulan berinisial RJ yang kondisinya sempat menjadi perhatian publik karena mengalami demam dan iritasi kulit selama beberapa hari. Tim Dokkes Polres Aceh Tengah akhirnya memastikan kondisi bayi dalam keadaan baik setelah dilakukan pemeriksaan dan terapi medis sederhana, dengan diagnosis awal alergi ringan yang dipicu kondisi cuaca ekstrem pascabanjir. Selain bayi RJ, tim juga memeriksa kesehatan sejumlah bayi lain dan warga desa yang telah terisolasi lebih dari satu bulan akibat putusnya akses jalan.

Perjalanan Ekstrem Menghadapi Akses Terputus

Medan yang dihadapi petugas benar‑benar menantang. Akses yang putus membuat perjalanan harus dilakukan dengan kendaraan roda dua jenis trail dan menyusuri jalan setapak yang tidak stabil. Banyak titik jalur yang rusak akibat longsor, membuat sekilas perjalanan tampak seperti jalur ekspedisi darurat. Petugas kesehatan harus siap secara fisik dan mental menghadapi kondisi ini, sementara anggota Brimob Polda Aceh serta Polres setempat terus membuka jalan sejauh mungkin demi mempercepat akses bantuan.

Layanan Kesehatan Bukan Sekadar Obat Biasa

Tim Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) tidak hanya memberikan obat kepada pasien, tetapi juga melakukan pemeriksaan menyeluruh termasuk pemberian vitamin, pemeriksaan status gizi anak, serta edukasi kesehatan bagi warga. Pendekatan medis ini sekaligus membantu meminimalisir dampak penyakit infeksi yang sering muncul pascabanjir, seperti gangguan pernapasan dan iritasi kulit karena kondisi lingkungan yang lembap dan tidak bersih.

Penanganan Lanjutan dan Perbaikan Akses Jalan

Sementara tim medis bekerja di lapangan, pihak berwenang terus melakukan upaya perbaikan akses jalan yang tertimbun material longsor dan lumpur. Alat berat telah diterjunkan untuk membuka ulang jalur utama menuju Watupayung dan beberapa desa lain yang masih terisolasi di pedalaman Aceh Tengah. Langkah ini diharapkan bisa mempercepat distribusi bantuan logistik dan membuka akses bagi layanan lainnya seperti pendidikan dan perdagangan.

Komitmen Polri dalam Situasi Darurat Bencana

Kegiatan ini mencerminkan komitmen Polri untuk hadir di tengah masyarakat dalam kondisi darurat bencana, bukan hanya dalam aspek keamanan tetapi juga layanan sosial dan kemanusiaan. Pelibatan Polri dalam pelayanan kesehatan sejalan dengan operasi kemanusiaan yang lebih luas di wilayah Aceh, di mana puluhan ribu warga terdampak banjir dan longsor memerlukan bantuan berkelanjutan.

Aksi Serupa di Daerah Lain Aceh

Langkah Polres Aceh Tengah bukan satu‑satunya upaya serupa di wilayah Aceh. Misalnya, Polri melalui Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Bireuen juga melayani pengobatan bagi pengungsi pascabanjir di Desa Pulo Pineng Dua Meunasah, Kabupaten Bireuen. Di sana, tim kesehatan memeriksa lusinan pasien pengungsi dengan keluhan yang umum muncul setelah bencana seperti demam, batuk, dermatitis, hingga gangguan pencernaan. Kehadiran layanan medis ini disambut antusias masyarakat yang kebutuhan kesehatannya sangat mendesak.

Tantangan Layanan Medis di Wilayah Terpencil

Medan berat dan kondisi geografis di pedalaman Aceh menjadi tantangan besar dalam penyampaian layanan kesehatan. Ketiadaan akses transportasi konvensional dan putusnya jaringan listrik serta komunikasi memperburuk situasi. Petugas kesehatan harus ekstra kreatif dalam mengatur logistik obat, peralatan medis, dan tenaga pendukung agar layanan tetap optimal di lokasi terpencil tersebut.

Peranan Kolaborasi Instansi Terkait

Pemberian layanan ini melibatkan koordinasi tidak hanya antara Polri dan tenaga kesehatan Polres, tetapi juga instansi kesehatan provinsi dan relawan kesehatan, termasuk tim Emergency Medical Team (EMT) dari Dinas Kesehatan Aceh yang juga menembus akses ekstrem untuk melayani penyintas bencana lain di wilayah Aceh Tengah. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa respons terhadap krisis kesehatan pascabanjir adalah usaha bersama yang melibatkan banyak pihak.

Suasana Warga dan Harapan Pemulihan

Warga desa yang telah hidup terisolasi berhari‑hari menunjukkan rasa syukur yang mendalam atas kedatangan petugas. Tidak hanya karena akses medis, tetapi juga karena kehadiran negara melalui aparat keamanan dan pelayanan kesehatan memberi harapan baru bahwa mereka tidak dilupakan. Para orang tua mengaku lega karena anak‑anak mereka yang sebelumnya sakit kini mendapat perawatan yang layak.

Dampak Jangka Panjang

Keterlibatan petugas kesehatan dan Polri dalam menembus wilayah terputus ini memberikan pelajaran penting tentang kesiapsiagaan bencana dan pentingnya sistem layanan darurat yang kuat di daerah rawan bencana. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat terus meningkatkan infrastruktur transportasi dan koordinasi layanan darurat sehingga proses pemulihan dari bencana alam dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

Komitmen Kehadiran Negara

Upaya Polri dan petugas kesehatan dalam menembus desa terisolasi di Watupayung menjadi contoh nyata bahwa negara hadir di tengah anggota masyarakatnya, terutama pada saat kondisi paling sulit sekalipun. Langkah ini tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem tanggap darurat nasional—bahwa layanan kesehatan dan perlindungan sosial dapat menjangkau siapa saja, tanpa terkecuali, bahkan di pelosok yang paling terpencil sekalipun.