Jejak Waktu — Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia kini semakin mengandalkan data bisnis dari platform e-commerce untuk membuat keputusan strategis. Menurut Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), tren ini menandai perubahan signifikan dari pendekatan berbasis intuisi ke pengambilan keputusan berbasis data yang lebih sistematis dan akurat.
Data dari platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada memberikan informasi yang komprehensif bagi UMKM mengenai perilaku konsumen, tren produk, dan strategi harga. Dengan akses ini, pelaku usaha dapat menyesuaikan stok, promosi, dan strategi pemasaran sesuai kebutuhan pasar secara real time.
“Data bisnis memungkinkan UMKM tidak lagi hanya mengandalkan insting atau intuisi. Mereka bisa melihat tren penjualan, preferensi konsumen, dan performa produk secara objektif,” ujar Direktur INDEF, Dr. Hadi Santoso, dalam diskusi ekonomi digital di Jakarta, Jumat (6/12).
Pendekatan berbasis data memberikan beberapa keuntungan bagi UMKM. Pertama, keputusan menjadi lebih tepat sasaran karena didukung fakta dan angka yang akurat. Kedua, risiko kesalahan dalam penentuan stok atau harga dapat diminimalkan. Ketiga, strategi promosi dan pemasaran bisa lebih efektif karena disesuaikan dengan segmentasi konsumen yang nyata.
“Dengan data, pelaku usaha dapat mengetahui produk mana yang laris, kapan waktu terbaik untuk promosi, dan harga yang paling kompetitif. Ini meningkatkan efisiensi dan keuntungan bisnis,” jelas Dr. Hadi Santoso.
INDEF sendiri mengadopsi pendekatan berbasis data dari e-commerce untuk riset ekonomi dan evaluasi kebijakan terkait UMKM. Sebelumnya, banyak analisis dilakukan dengan mengandalkan intuisi atau survei terbatas. Sekarang, data digital yang meliputi transaksi, preferensi konsumen, dan tren belanja online digunakan untuk menghasilkan insight yang lebih akurat.
“Metode lama berbasis intuisi memiliki keterbatasan. Dengan data e-commerce, kami bisa memetakan pasar UMKM secara lebih realistis, melihat peluang, dan menilai dampak kebijakan secara lebih tepat,” jelas Direktur Riset INDEF, Anita Prasetyo.
Adopsi data bisnis membuat UMKM lebih adaptif terhadap perubahan pasar. Pelaku usaha yang memanfaatkan informasi digital mampu meningkatkan omzet, memperluas pangsa pasar, dan mengoptimalkan rantai pasok. Beberapa UMKM bahkan berhasil menembus pasar internasional berkat strategi berbasis data.
“Data memungkinkan UMKM merencanakan produksi dan pemasaran dengan lebih baik, sehingga pertumbuhan bisnis menjadi lebih stabil dan berkelanjutan,” ujar ekonom digital Rudi Hartono.
Untuk mendukung pemanfaatan data, banyak platform e-commerce dan lembaga pelatihan menyelenggarakan edukasi digital bagi UMKM. Modul pelatihan mencakup analisis data penjualan, strategi harga berbasis algoritma, penggunaan dashboard penjualan, serta pemanfaatan iklan digital untuk meningkatkan performa bisnis.
“Pendidikan digital menjadi kunci agar UMKM bisa membaca data dan mengambil keputusan yang tepat. Tanpa pemahaman, data tidak akan memberikan manfaat maksimal,” jelas Anita Prasetyo.
Sejumlah UMKM telah menunjukkan hasil nyata dari pendekatan berbasis data. Contohnya, toko kerajinan lokal di Yogyakarta berhasil meningkatkan penjualan hingga 150 persen dalam enam bulan dengan menganalisis data penjualan online dan menyesuaikan stok produk sesuai tren konsumen.
“Data membantu saya memahami apa yang dicari pelanggan, kapan mereka berbelanja, dan produk mana yang harus diprioritaskan. Hasilnya, omzet meningkat dan pelanggan puas,” kata pemilik toko, Siti Nurhayati.
Meski banyak keuntungan, pemanfaatan data e-commerce juga menghadapi tantangan. Beberapa UMKM masih kesulitan mengakses atau menginterpretasikan data dengan benar. Selain itu, infrastruktur digital di beberapa daerah masih terbatas, sehingga akses internet dan perangkat teknologi menjadi kendala.
“Kendala terbesar adalah literasi digital dan keterbatasan infrastruktur. Data tersedia, tapi tidak semua UMKM mampu memanfaatkannya secara maksimal,” ujar Rudi Hartono.
Pemerintah dan platform e-commerce berperan aktif dalam mengatasi hambatan ini. Program pelatihan, subsidi perangkat digital, dan akses internet di wilayah tertinggal menjadi strategi untuk memastikan semua UMKM bisa memanfaatkan data bisnis.
“Kami mendorong kerja sama antara pemerintah, platform digital, dan komunitas UMKM agar pemanfaatan data menjadi inklusif dan merata,” jelas Anita Prasetyo.
Tren pemanfaatan data bisnis diprediksi akan semakin meningkat, menjadikan UMKM lebih kompetitif dan tangguh menghadapi dinamika pasar. Analisis data tidak hanya membantu perencanaan operasional, tetapi juga memfasilitasi inovasi produk dan strategi bisnis yang lebih cerdas.
“Ke depan, UMKM yang sukses adalah yang mampu membaca data, memahami pasar, dan mengambil keputusan cepat. Data bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan utama,” tegas Dr. Hadi Santoso.
Pemanfaatan data e-commerce menjadi game changer bagi UMKM Indonesia. Dengan beralih dari intuisi ke keputusan berbasis data, pelaku usaha dapat meningkatkan efisiensi, omzet, dan daya saing. Dukungan dari INDEF, pemerintah, dan platform digital memperkuat ekosistem ini, menjadikan UMKM lebih adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan pasar modern.
Transformasi digital melalui data bisnis bukan sekadar tren, tetapi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
