Banjir Susulan Terjang Aceh Rendam 20 Gampong di Pidie Jaya, Warga Panik

Banjir Susulan Terjang Aceh Rendam 20 Gampong di Pidie Jaya, Warga Panik

Jejak WaktuBanjir susulan kembali melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama berjam-jam. Kabupaten Pidie Jaya menjadi salah satu daerah terdampak paling parah, dengan sedikitnya 20 gampong dilaporkan terendam air. Banjir datang secara tiba-tiba pada malam hingga dini hari, membuat warga panik dan berlarian menyelamatkan diri serta barang berharga mereka.

Curah hujan tinggi yang terjadi sejak sore hari menyebabkan sungai-sungai utama meluap. Air dengan cepat memasuki permukiman warga, lahan pertanian, serta fasilitas umum. Beberapa desa yang sebelumnya sudah terdampak banjir kini kembali terendam dengan ketinggian air yang lebih tinggi.

Warga Panik Selamatkan Diri

Suasana kepanikan terlihat jelas di sejumlah gampong di Pidie Jaya. Warga bergegas keluar rumah saat air mulai naik dengan cepat. Anak-anak, lansia, dan perempuan menjadi prioritas untuk dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat yang berada di dataran lebih tinggi, sementara lainnya bertahan di meunasah dan fasilitas umum.

“Air naik sangat cepat, kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang. Yang penting keluarga selamat,” ujar Abdullah, salah satu warga terdampak. Ia mengaku banjir susulan ini lebih mengkhawatirkan dibandingkan banjir sebelumnya karena datang pada malam hari.

Sebanyak 20 Gampong Terendam

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya mencatat sedikitnya 20 gampong di beberapa kecamatan terdampak banjir susulan. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 30 sentimeter hingga mencapai satu meter di beberapa titik. Genangan air merendam rumah warga, jalan desa, sekolah, dan area persawahan.

“Banjir susulan ini disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi serta meluapnya sungai. Kami masih melakukan pendataan jumlah rumah dan warga terdampak,” kata Kepala BPBD Pidie Jaya. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan cukup besar.

Akses Jalan dan Aktivitas Warga Terganggu

Banjir juga berdampak pada akses transportasi dan aktivitas warga. Sejumlah ruas jalan penghubung antar gampong terendam air, menyulitkan kendaraan roda dua maupun roda empat melintas. Aktivitas ekonomi warga lumpuh sementara, termasuk pasar tradisional dan usaha kecil.

Lahan pertanian yang baru ditanami padi turut terendam banjir, menimbulkan kekhawatiran petani akan gagal panen. “Sawah kami baru tanam, sekarang terendam lagi. Kami khawatir tanaman rusak,” keluh seorang petani setempat.

Upaya Evakuasi dan Penanganan Darurat

BPBD bersama TNI, Polri, dan relawan bergerak cepat melakukan evakuasi warga yang terdampak. Perahu karet dikerahkan untuk menjangkau permukiman yang terisolasi akibat banjir. Posko darurat juga didirikan untuk menampung pengungsi dan menyalurkan bantuan.

“Kami fokus pada keselamatan warga, terutama kelompok rentan. Evakuasi terus dilakukan dan logistik mulai disalurkan,” ujar seorang petugas di lapangan. Bantuan berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan obat-obatan mulai didistribusikan ke lokasi pengungsian.

Waspada Banjir Susulan

Pemerintah daerah mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan. Berdasarkan prakiraan cuaca, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Aceh dalam beberapa hari ke depan. Warga yang tinggal di bantaran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan dan segera mengungsi jika air kembali naik.

“Kami mengimbau masyarakat untuk mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan diri bertahan di rumah jika kondisi membahayakan,” tegas pihak BPBD.

Dampak Psikologis dan Kebutuhan Mendesak

Selain kerugian material, banjir susulan juga menimbulkan dampak psikologis bagi warga, terutama anak-anak dan lansia. Kepanikan yang terjadi saat banjir datang secara mendadak membuat banyak warga mengalami trauma.

Tim kesehatan dan relawan mulai melakukan pendampingan psikososial di lokasi pengungsian. “Kami tidak hanya fokus pada bantuan fisik, tapi juga kondisi mental warga agar mereka bisa pulih,” kata seorang relawan kemanusiaan.

Harapan Warga dan Langkah Ke Depan

Warga Pidie Jaya berharap pemerintah segera melakukan langkah jangka panjang untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi. Normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan penataan wilayah rawan banjir menjadi harapan utama masyarakat.

“Setiap musim hujan kami selalu khawatir. Semoga ada solusi permanen agar banjir tidak terus berulang,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Banjir susulan yang melanda wilayah Aceh, khususnya Kabupaten Pidie Jaya, telah merendam 20 gampong dan memicu kepanikan warga. Hujan lebat dan luapan sungai menjadi penyebab utama bencana ini. Meski tidak ada korban jiwa, dampak banjir cukup signifikan terhadap permukiman, pertanian, dan aktivitas warga.

Upaya evakuasi dan penanganan darurat terus dilakukan oleh pemerintah dan tim gabungan. Di tengah kondisi ini, kewaspadaan masyarakat dan langkah mitigasi jangka panjang menjadi kunci agar bencana serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.