Banjir dan longsor di Sumatra Utara, Akibat Perusakan Hutan atau Cuaca Ekstrem

Banjir dan longsor di Sumatra Utara, Akibat Perusakan Hutan atau Cuaca Ekstrem

Jejak Waktu — Sumatra Utara kembali dilanda bencana alam berupa Banjir dan Tanah Longsor, terutama di wilayah Kabupaten Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, dan Dairi. Curah hujan tinggi yang melanda provinsi ini dalam beberapa hari terakhir memicu meluapnya sungai dan aliran air di daerah rawan longsor. Akibatnya, ribuan warga terdampak, puluhan rumah rusak, dan akses jalan terputus, menghambat distribusi bantuan serta evakuasi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Utara mencatat lebih dari 5.000 jiwa terdampak akibat banjir dan longsor. Tim evakuasi gabungan dari TNI, Polri, serta relawan terus melakukan penyelamatan dan mendirikan posko darurat untuk menampung korban, terutama di daerah yang terisolasi akibat longsor menutupi akses jalan.

Perusakan Hutan, Salah Satu Faktor Penyebab?

Sejumlah ahli lingkungan menyoroti bahwa perusakan hutan dan alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor utama yang memperparah bencana. Sumatra Utara mengalami deforestasi yang signifikan selama beberapa tahun terakhir akibat penebangan liar, pertambangan, dan konversi lahan untuk perkebunan.

Hutan berfungsi sebagai penyangga ekosistem yang menyerap air hujan dan mencegah erosi. Ketika hutan hilang atau rusak, daya serap tanah menurun drastis, sehingga curah hujan tinggi lebih mudah menimbulkan banjir dan longsor. Pakar lingkungan dari Universitas Sumatra Utara menegaskan bahwa wilayah yang mengalami kerusakan hutan lebih rentan terhadap bencana.

“Banjir dan longsor menjadi semakin sering dan parah di kawasan yang hutan alaminya telah hilang,” ujarnya.

Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

Selain faktor lokal, cuaca ekstrem akibat perubahan iklim global juga menjadi pemicu meningkatnya intensitas banjir dan longsor. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan di Sumatra Utara pada November 2025 berada di atas normal, dengan beberapa titik mencatat curah hujan harian ekstrem mencapai 200–300 mm.

BMKG memperingatkan bahwa perubahan pola curah hujan, termasuk hujan deras yang terjadi dalam waktu singkat, meningkatkan risiko tanah longsor di daerah pegunungan dan aliran sungai yang sempit. Hal ini diperparah dengan kondisi tanah yang jenuh air akibat curah hujan sebelumnya, sehingga memicu tanah longsor mendadak.

Dampak Bencana Terhadap Masyarakat

Banjir dan longsor menyebabkan dampak luas bagi masyarakat setempat. Banyak warga kehilangan tempat tinggal sementara, terutama yang tinggal di permukiman di bantaran sungai dan lereng bukit. Aktivitas ekonomi terganggu, termasuk sektor pertanian dan perdagangan, karena akses transportasi terputus dan lahan pertanian rusak.

Selain kerusakan fisik, bencana juga menimbulkan tekanan psikologis bagi korban. Banyak keluarga harus mengungsi ke posko darurat, menghadapi keterbatasan fasilitas, serta khawatir terhadap keselamatan harta benda mereka. Pemerintah daerah berupaya memberikan bantuan makanan, pakaian, obat-obatan, dan air bersih, meski distribusi terkendala kondisi geografis dan infrastruktur yang rusak.

Upaya Pemerintah dan Penanggulangan Bencana

Pemprov Sumatra Utara dan BPBD melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi bencana ini. Tim SAR, relawan, dan aparat keamanan diterjunkan untuk evakuasi warga terdampak. Beberapa jalan utama yang tertutup longsor dibersihkan secara darurat, sementara jembatan dan tanggul sementara dibangun untuk mempermudah distribusi bantuan.

Selain respons darurat, pemerintah daerah juga menekankan perlunya rehabilitasi hutan dan penanaman kembali pohon di daerah rawan longsor. Program ini diharapkan dapat meningkatkan daya serap air dan menurunkan risiko bencana di masa depan.

Kepala BPBD Sumatra Utara menyatakan, “Kita harus bekerja sama dengan masyarakat dan pihak swasta untuk mengembalikan fungsi ekologis hutan sebagai benteng alami menghadapi banjir dan longsor.”

Kesadaran Masyarakat dan Pencegahan Bencana

Pencegahan menjadi kunci mengurangi dampak bencana. Edukasi masyarakat tentang risiko bencana, cara evakuasi, dan pembangunan rumah di lokasi aman sangat penting. Beberapa desa di Sumatra Utara mulai menerapkan sistem peringatan dini, termasuk penggunaan aplikasi dan sirene lokal untuk memberi tahu warga saat hujan ekstrem atau tanah longsor berpotensi terjadi.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang merusak lingkungan, seperti penebangan pohon sembarangan atau membangun permukiman di lereng curam. Kesadaran kolektif ini dinilai penting agar risiko banjir dan longsor dapat diminimalkan, selain mengandalkan intervensi pemerintah.

Perlu Sinergi Antara Pemerintah, Masyarakat, dan Alam

Banjir dan longsor di Sumatra Utara merupakan kombinasi antara faktor alam dan manusia. Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim memperparah kondisi, sementara perusakan hutan meningkatkan kerentanan wilayah. Dampaknya meluas, mulai dari kerusakan rumah dan lahan pertanian hingga gangguan psikologis masyarakat.

Langkah mitigasi, rehabilitasi hutan, edukasi masyarakat, dan peringatan dini menjadi strategi penting untuk mengurangi risiko. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lain menjadi kunci agar bencana serupa dapat ditangani lebih efektif di masa depan. Banjir dan longsor di Sumatra Utara menjadi pengingat bahwa alam dan manusia saling terkait, dan menjaga ekosistem adalah investasi penting untuk keselamatan generasi mendatang.