Jejak Waktu – Kawasan Monumen Nasional (Monas) merupakan ikon kebanggaan Jakarta yang selalu menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, keindahan simbol perjuangan bangsa ini kembali ternoda oleh praktik lama yang tak kunjung usai: parkir liar. Baru-baru ini, sebuah video viral di media sosial memperlihatkan momen memprihatinkan saat kendaraan milik wisatawan diduga dikempiskan bannya oleh oknum tidak bertanggung jawab karena tidak parkir di tempat resmi.
Video Viral Ban Dikempiskan Di Monas Turis Jadi Korban Parkir Liar
Video yang beredar luas tersebut menunjukkan kekecewaan seorang turis yang mendapati ban kendaraannya kempis total setelah ditinggal sebentar untuk menikmati suasana Monas. Berdasarkan keterangan dalam video, wisatawan tersebut diarahkan oleh oknum juru parkir (jukir) liar untuk memarkirkan kendaraannya di bahu jalan dengan jaminan keamanan.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kendaraan tersebut menjadi sasaran penertiban—atau dalam beberapa dugaan, sabotase oleh pihak-pihak tertentu sebagai bentuk “hukuman” atau tekanan agar wisatawan membayar biaya lebih. Kejadian ini memicu kemarahan netizen yang menilai bahwa Jakarta seharusnya menjadi kota yang ramah bagi pengunjung, bukan justru menjebak mereka dalam skema pemerasan berkedok jasa parkir.
Modus Operandi dan Jebakan “Orang Dalam”
Parkir liar di sekitar Monas bukanlah masalah baru, namun modusnya kian beragam. Biasanya, oknum jukir liar akan berdiri di titik-titik strategis dan melambaikan tangan dengan ramah, seolah-olah mereka adalah petugas resmi yang membantu mengarahkan ke lahan parkir alternatif saat IRTI Monas (lokasi parkir resmi) terlihat penuh.
Wisatawan, terutama yang berasal dari luar kota atau luar negeri, sering kali tidak mengetahui batas antara lahan parkir legal dan ilegal. Oknum ini biasanya menjanjikan keamanan penuh, namun saat terjadi operasi penertiban oleh Dinas Perhubungan (Dishub), para jukir ini menghilang begitu saja, meninggalkan pemilik kendaraan menghadapi konsekuensi ban dikempiskan atau bahkan diderek.
Dampak Terhadap Citra Pariwisata Jakarta
Kejadian ini membawa dampak buruk yang signifikan bagi citra pariwisata Jakarta. Saat seorang turis menjadi korban, cerita tersebut akan menyebar dengan cepat melalui media sosial, menciptakan persepsi bahwa Jakarta adalah kota yang tidak aman dan penuh pungutan liar.
“Sangat disayangkan jika pengalaman berwisata yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi trauma hanya karena masalah parkir. Ini bukan hanya soal denda atau ban kempis, tapi soal rasa aman pengunjung di ibu kota.”
Jika praktik ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin minat wisatawan untuk mengunjungi Monas akan menurun. Mereka lebih memilih pusat perbelanjaan atau lokasi wisata lain yang memiliki sistem manajemen parkir yang lebih transparan dan terjamin keamanannya.
Langkah Tegas Pemerintah dan Solusi Kedepan
Menanggapi video viral tersebut, pihak berwenang diharapkan tidak hanya melakukan penertiban musiman. Diperlukan pengawasan yang konsisten dan pemasangan rambu-rambu peringatan yang lebih mencolok di titik-titik rawan parkir liar. Masyarakat juga diimbau untuk selalu menggunakan lokasi parkir resmi di IRTI Monas atau gedung-gedung perkantoran di sekitar kawasan tersebut meskipun harus berjalan kaki sedikit lebih jauh.
Penegakan hukum terhadap oknum jukir liar yang melakukan pemerasan atau perusakan properti (seperti mengempiskan ban secara sepihak tanpa prosedur resmi) juga harus dilakukan untuk memberikan efek jera. Digitalisasi parkir dan penambahan kapasitas kantong parkir resmi menjadi solusi jangka panjang yang paling masuk akal untuk mengurai keruwetan ini.
