Jejak Waktu – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) bukan sekadar aksi kriminalitas jalanan biasa. Serangan ini kerap dipandang sebagai upaya pembungkaman terhadap suara kritis yang memperjuangkan hak asasi manusia. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana para pelaku sering kali memiliki strategi matang untuk menghapus jejak digital maupun fisik guna menghindari jeratan hukum.
Upaya Pelaku Hapus Jejak Usai Siram Air Keras Ke Aktivis KontraS
Salah satu taktik utama yang sering ditemukan dalam upaya penghapusan jejak adalah pemilihan rute pelarian yang sangat spesifik. Pelaku biasanya telah memetakan lokasi penyerangan berhari-hari sebelumnya. Mereka sengaja memilih titik eksekusi yang minim pencahayaan atau berada di “titik buta” (blind spot) kamera pemantau (CCTV).
Setelah melakukan aksinya, pelaku tidak langsung menuju jalan protokol, melainkan masuk ke gang-gang sempit pemukiman yang padat penduduk. Di sana, kemungkinan adanya kamera pengawas milik pemerintah sangat kecil. Jika pun ada CCTV milik warga, pelaku biasanya sudah mengenakan penutup wajah (masker), helm dengan kaca gelap, atau jaket penutup kepala (hoodie) yang menyamarkan postur serta ciri fisik mereka.
Manipulasi Kendaraan dan Identitas Fisik
Selain rute, kendaraan yang digunakan menjadi target utama dalam penghapusan barang bukti. Dalam beberapa kasus, pelaku menggunakan pelat nomor palsu atau bahkan mencopot pelat nomor sesaat setelah menjauh dari lokasi kejadian. Tidak jarang pula, kendaraan yang digunakan adalah kendaraan hasil curian atau kendaraan yang dipinjam dari pihak ketiga yang tidak mengetahui rencana jahat tersebut.
Upaya penghapusan jejak fisik juga dilakukan dengan segera mengganti pakaian. Pelaku sering kali menyiapkan baju ganti di lokasi tertentu atau langsung membuang pakaian yang digunakan saat beraksi ke sungai atau tempat sampah umum untuk menghilangkan sisa percikan air keras atau bau kimia yang mungkin menempel. Hal ini dilakukan untuk memutus korelasi fisik jika suatu saat mereka dihentikan oleh petugas keamanan dalam razia rutin.
Upaya Memutus Komunikasi Digital
Di era modern, jejak digital adalah musuh terbesar bagi pelaku kejahatan terencana. Untuk meminimalisir risiko terlacak melalui sinyal ponsel (BTS), pelaku cenderung mematikan perangkat komunikasi mereka sebelum menuju lokasi kejadian. Penggunaan aplikasi pesan terenkripsi yang memiliki fitur self-destructing message (pesan yang terhapus otomatis) juga menjadi pilihan untuk berkoordinasi dengan aktor intelektual atau rekan pemberi instruksi.
Strategi ini bertujuan agar penyelidik kepolisian kesulitan melakukan penarikan data komunikasi (call data record) yang bisa menghubungkan keberadaan mereka dengan waktu kejadian. Tanpa adanya sinkronisasi antara posisi GPS ponsel dan waktu penyerangan, pelaku merasa lebih aman dari endusan tim siber.
Tantangan Penegakan Hukum dan Perlindungan Saksi
Penghapusan jejak yang sistematis ini menciptakan tantangan besar bagi aparat penegak hukum. Sering kali, penyelidikan terhenti pada pelaku lapangan (eksekutor) karena mereka telah diputus komunikasinya dengan sang pemberi perintah. “Dinding api” ini sengaja dibangun agar dalang di balik serangan terhadap aktivis KontraS tetap tidak tersentuh oleh hukum.
Oleh karena itu, pengumpulan bukti sekecil apa pun, mulai dari residu kimia di lokasi hingga keterangan saksi mata yang melihat pergerakan mencurigakan sebelum kejadian, menjadi sangat krusial. Perlindungan terhadap saksi juga menjadi kunci, mengingat pelaku yang berani menyerang aktivis biasanya memiliki jaringan yang cukup kuat untuk melakukan intimidasi ulang.
