Jejak Waktu — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan dan Dinas Bina Marga resmi memulai pembongkaran tiang-tiang monorel yang berada di sepanjang Jalan Rasuna Said. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari penataan ulang kawasan pusat bisnis dan transportasi Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Edhie, menegaskan bahwa pembongkaran ini adalah bagian dari komitmen pemerintah untuk menciptakan ruang publik yang lebih aman, tertata, dan ramah bagi pejalan kaki serta pengguna transportasi umum.
Sejarah Proyek Monorel Jakarta
Proyek monorel Jakarta pertama kali digagas pada era 1980-an dengan tujuan mempercepat mobilitas masyarakat di Jakarta. Meskipun sempat dibangun sebagian infrastruktur, proyek ini akhirnya mandek karena kendala pendanaan, teknologi, dan perubahan kebijakan transportasi. Seiring waktu, tiang-tiang monorel yang berdiri di sepanjang Jalan Rasuna Said menjadi simbol proyek yang terbengkalai.
Pramono menyatakan, “Masa lalu adalah pembelajaran, dan saatnya kita menata kembali kota agar lebih produktif dan modern. Pembongkaran tiang monorel adalah langkah awal menuju kawasan yang lebih tertata.”
Alasan Pembongkaran Tiang Monorel
Beberapa alasan utama pembongkaran ini antara lain:
- Keamanan Publik – Tiang monorel yang sudah tua dan tidak terawat berpotensi menimbulkan risiko bagi pejalan kaki, kendaraan, dan bangunan sekitar.
- Penataan Kota – Jalan Rasuna Said merupakan salah satu pusat bisnis Jakarta. Pembongkaran tiang monorel akan membuka ruang untuk pengembangan trotoar, jalur sepeda, dan fasilitas transportasi publik.
- Persiapan Infrastruktur Baru – Pembongkaran ini juga menjadi tahap awal untuk pembangunan infrastruktur transportasi modern yang lebih efisien, seperti jalur bus cepat dan fasilitas MRT.
Proses Pembongkaran
Proses pembongkaran dimulai pada awal Januari 2026 dan akan dilakukan secara bertahap. Tim Dinas Bina Marga menggunakan peralatan modern untuk menyingkirkan tiang-tiang secara aman. Jalan utama tetap dibuka untuk kendaraan, sementara beberapa jalur sisi akan ditutup sementara untuk memastikan keselamatan pekerja dan publik.
Pramono menekankan pentingnya koordinasi dengan warga, pelaku usaha, dan pengguna jalan. Ia menambahkan, “Pembongkaran ini tidak hanya soal fisik tiang, tetapi juga soal menciptakan ruang kota yang lebih manusiawi dan ramah bagi semua.”
Dampak terhadap Transportasi dan Aktivitas Publik
Meskipun ada pengalihan sementara jalur lalu lintas, pemerintah telah menyiapkan rute alternatif dan informasi publik agar mobilitas warga tetap lancar. Selain itu, pembongkaran ini akan meningkatkan estetika kota dan mempermudah akses transportasi publik.
Para pedagang dan pemilik bisnis di sepanjang Rasuna Said juga diimbau untuk beradaptasi dengan perubahan ini. Pemerintah menjamin bahwa proses pembongkaran akan dilakukan secara transparan dan meminimalkan dampak ekonomi bagi pelaku usaha.
Tanggapan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan
Berbagai pihak menanggapi positif langkah ini. Warga menyambut baik upaya pemerintah menata kawasan yang selama ini terlihat kumuh dan kurang teratur. Sementara itu, pakar transportasi menekankan bahwa penataan kota yang berkelanjutan memerlukan pendekatan yang matang, termasuk integrasi dengan sistem transportasi massal dan ruang publik.
Sejumlah pengamat juga menyoroti bahwa pembongkaran tiang monorel bukan sekadar simbol pembangunan fisik, tetapi bagian dari upaya Jakarta menjadi kota yang lebih modern, aman, dan efisien bagi warganya.
Rencana Pengembangan Kawasan Setelah Pembongkaran
Setelah tiang monorel dibongkar, pemerintah berencana mengembangkan Rasuna Said menjadi kawasan modern yang mengintegrasikan transportasi, ruang hijau, dan fasilitas publik. Rencana ini mencakup:
- Jalur pedestrian yang lebar dan nyaman
- Jalur sepeda untuk mendukung transportasi ramah lingkungan
- Integrasi transportasi publik dengan MRT dan BRT
- Penataan fasilitas komersial dan ruang hijau
Pramono menekankan bahwa tujuan akhir adalah menciptakan kawasan yang tidak hanya efisien secara transportasi, tetapi juga nyaman dan aman bagi warga serta pekerja di sekitar Rasuna Said.
Tantangan dan Strategi Pemerintah
Pembongkaran tiang monorel menghadapi sejumlah tantangan, termasuk koordinasi dengan pihak swasta, manajemen lalu lintas, dan aspek hukum terkait kepemilikan lahan. Pemerintah telah membentuk tim lintas dinas untuk menangani semua aspek ini secara profesional.
Pramono menekankan perlunya komunikasi intensif dengan publik agar setiap tahap pembongkaran dan pembangunan infrastruktur berikutnya berjalan lancar. Strategi ini diharapkan mengurangi potensi konflik dan memastikan proyek selesai sesuai target.
Rasuna Said Menuju Kawasan Modern
Pembongkaran tiang monorel di Rasuna Said menandai babak baru dalam penataan kota Jakarta. Langkah ini bukan sekadar membongkar struktur fisik, tetapi juga menegaskan komitmen pemerintah untuk menciptakan kota yang lebih aman, tertata, dan modern.
Dengan perencanaan matang, koordinasi lintas sektor, dan keterlibatan masyarakat, Rasuna Said diharapkan menjadi contoh kawasan pusat bisnis yang terintegrasi dengan transportasi publik, ruang hijau, dan fasilitas pendukung lainnya. Proyek ini menunjukkan bahwa transformasi kota membutuhkan keberanian untuk membongkar masa lalu demi membangun masa depan yang lebih baik.
