Jejak Waktu — Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyatakan kemarahan dan keprihatinannya setelah terungkap adanya sabotase terhadap pembangunan jembatan bailey yang sedang dikerjakan oleh prajurit TNI bersama masyarakat di wilayah terdampak banjir dan longsor di Sumatera. Peristiwa ini terjadi di tengah upaya besar pemerintah dan TNI mempercepat pemulihan akses transportasi serta distribusi bantuan untuk warga yang baru saja dilanda bencana alam.
Sabotase ini menjadi sumber kekhawatiran serius karena jembatan bailey adalah infrastruktur vital yang dibangun sebagai penghubung sementara bagi warga terdampak bencana. Jenderal Maruli secara tegas mengatakan bahwa baut-baut konstruksi jembatan tersebut dicopot oleh orang tak dikenal, sebuah tindakan yang menurutnya tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan.
Terungkapnya Sabotase: Kronologi dan Penyampaian Kasad Maruli
Dalam konferensi pers yang digelar di Posko Terpadu Penanganan Bencana di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kasad menyampaikan bahwa insiden sabotase diketahui oleh prajurit pada Minggu pagi, 28 Desember 2025. Menurut laporan, baut-baut yang sebelumnya telah terpasang, ditemukan dalam kondisi dicopot atau berpindah posisi — sebuah indikasi kuat adanya tindakan disengaja.
Maruli menyebut tindakan ini bukan sekadar kelalaian atau perbaikan, tetapi upaya yang dilakukan dengan niat luar biasa dan disengaja. Ia mengakui bahwa dirinya awalnya tidak pernah membayangkan ada orang yang rela melakukan tindakan tersebut di tengah situasi bencana.
“Kami juga tidak menyangka ada orang sebiadab ini ya, terus terang saja,” ujar Maruli penuh emosi saat menjawab pertanyaan wartawan.
Kasad: Tindakan Sabotase Biadab dan Mengorbankan Masyarakat
Jenderal Maruli tidak hanya mengungkap fakta adanya sabotase, namun juga mengecam keras perilaku oknum yang mencopot baut jembatan tersebut. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan perilaku biadab karena mengorbankan keselamatan masyarakat terdampak bencana yang justru sangat membutuhkan akses infrastruktur tersebut.
“Masyarakat yang sedang bencana pun mau dikorbankan. Saya semalam tidak bisa tidur saya memikirkan ini… karena saya pikir orang sebiadab ini luar biasa,” ujar Maruli dengan nada tegas dan emosional, menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi.
Maruli juga menepis kemungkinan bahwa kejadian ini adalah bagian dari upaya pengkondisian opini atau skenario lain yang tidak bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa tindakan sabotase bukanlah upaya pengkondisian, melainkan sebuah ancaman nyata bagi keselamatan warga di kawasan bencana.
Pembangunan Jembatan Bailey: Upaya Cepat Pemerintah dan TNI
Jembatan bailey yang menjadi target sabotase itu merupakan bagian dari respon cepat pemerintah, TNI, dan Polri dalam memulihkan akses di wilayah yang rusak akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga saat ini belasan jembatan bailey telah berhasil dibangun dan ratusan unit lainnya sedang dalam proses pengerjaan atau pengiriman.
Infrastruktur ini dibangun untuk memastikan arus logistik, bantuan kemanusiaan, serta mobilitas warga tetap berjalan meski kondisi jalan rusak parah. TNI AD bekerja siang dan malam melalui shift kerja tiga shift untuk mengejar target penyelesaian jembatan dan memastikan akses warga kembali normal secepat mungkin.
Maruli bahkan mengungkap rencana pemerintah untuk mendatangkan 100 unit jembatan bailey dari luar negeri demi mempercepat pembangunan infrastruktur vital tersebut di berbagai titik terdampak.
Reaksi dan Dampak Tindakan Sabotase
Tindakan sabotase ini tidak hanya memicu kemarahan Maruli, tetapi juga menimbulkan keprihatinan luas dari berbagai pihak. Sejumlah pengamat menyatakan bahwa insiden ini berpotensi memperlambat proses pemulihan dan mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap situasi keamanan di tengah masa krisis.
Beberapa pihak juga mengkhawatirkan bahwa jika tindakan serupa terulang, hal tersebut akan semakin memperparah kondisi masyarakat yang sudah menderita akibat bencana. Maruli menegaskan bahwa TNI AD akan menyelidiki tindakan ini secara menyeluruh, menggandeng instansi terkait untuk mengungkap motif serta pelaku pelaku yang bertanggung jawab.
Pesan Kasad: Kompak, Fokus, dan Lindungi Masyarakat
Di tengah kritik dan perdebatan, Kasad Maruli juga menyampaikan pesan penting: semua pihak harus tetap kompak dalam penanganan bencana dan fokus pada tugas untuk melayani serta melindungi masyarakat. Ia menekankan bahwa tindakan sabotase yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab justru berpotensi memecah kekompakan dalam kerja bersama menghadapi situasi genting.
Kolaborasi antara TNI, pemerintah, instansi terkait, serta masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam mempercepat pemulihan wilayah terdampak. Maruli berharap bahwa semua pihak memahami konteks urgensi dan kebutuhan masyarakat yang sangat bergantung pada bantuan serta akses infrastruktur.
Tindakan Tak Terduga di Tengah Krisis
Kasus sabotase jembatan bantuan banjir yang dibangun oleh TNI AD ini memperlihatkan betapa kompleksnya upaya penanganan bencana di Indonesia, tidak hanya dari sisi teknis tetapi juga sosial dan keamanan. Akses vital yang dirusak oleh oknum tak dikenal telah memicu respons tegas dari Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, yang mengecam tindakan tersebut sebagai perilaku biadab karena menempatkan masyarakat dalam risiko bahaya yang seharusnya tidak perlu ada di tengah kondisi genting.
Kini, fokus utama tetap pada penyelesaian pembangunan jembatan, investigasi pelaku sabotase, dan pemulihan wilayah terdampak bencana agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan normal dengan akses dan layanan yang aman.
