Teknologi Kebanggaan Buatan RI Bikin Negara Lain Panas Dingin

Teknologi Kebanggaan Buatan RI Bikin Negara Lain Panas Dingin

Jejak Waktu — Jakarta, CNBC Indonesia – QRIS disebut membuat sistem pembayaran di sejumlah negara ‘panas dingin’. Hal ini mengingat cakupan penggunaannya yang cukup luas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebutkan QRIS telah digunakan 57 juta konsumen dengan 39 juta merchant.

Di sisi lain, layanan itu juga telah bisa digunakan di banyak negara. Mulai dari Thailand, Malaysia, Fillipina, Singapura, Vietnam, Laos, Brunei, Jepang, dan Korea.

“Itu sudah digunakan oleh 57 juta konsumer Indonesia. Dan ini sudah menunjukkan bahwa penggunaan QRIS ini bisa membuat payment system negara lain panas-dingin,” kata Airlangga dikutip dari Detik.com, Senin (24/11/2025).

Pemerintah disebutnya tengah mendorong akselerasi digital RI. ASEAN Digital Economic Framework Agreement (DEFA) mencatat nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan meningkat dari US$90 miliar menjadi US$360 miliar.

Indonesia terus menunjukkan taringnya dalam peta persaingan Teknologi global. Jika sebelumnya industri teknologi hanya didominasi negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, dan beberapa negara Eropa, kini Indonesia mulai muncul sebagai kekuatan baru dengan sederet inovasi unggulan. Tak lagi hanya menjadi pasar, Indonesia telah masuk sebagai produsen teknologi yang memiliki daya tawar tinggi. Beberapa produk dan inovasi buatan anak bangsa bahkan membuat berbagai negara lain mulai merasa panas dingin melihat perkembangan cepat dari dalam negeri.

Di balik kemajuan ini, pemerintah, akademisi, dan pelaku industri kompak menempatkan riset, inovasi, serta hilirisasi sebagai fondasi utama pembangunan. Kombinasi kolaborasi ini memunculkan banyak karya yang bukan hanya membanggakan dari sisi nilai nasionalisme, tetapi juga kompetitif dari sisi kualitas dan penerapan di dunia nyata.

Teknologi Pertahanan Buatan Indonesia Jadi Sorotan Dunia

Bidang pertahanan menjadi salah satu sektor paling menonjol dari kiprah teknologi nasional. PT Pindad, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia menjadi tiga raksasa dalam pengembangan produk militer yang kini diperhitungkan banyak negara. Tak hanya dipakai untuk kebutuhan TNI, beberapa produk juga telah menembus pasar ekspor.

Contohnya, kendaraan tempur Anoa 6×6 dan panser varian Komodo yang dikembangkan PT Pindad sudah menjadi perhatian di berbagai kontingen militer negara sahabat. Anoa telah digunakan dalam misi perdamaian pasukan PBB dan mendapatkan apresiasi atas kemampuan mobilitas, daya jelajah, serta kemampuan adaptif di medan tempur.

Sementara itu, PT PAL berhasil membuat kapal selam Nagapasa Class serta kapal perusak kawal rudal yang menawarkan teknologi navigasi dan sensor terintegrasi. Industri maritim Indonesia kini dianggap sebagai salah satu pemain yang semakin ditakuti di kawasan Asia. Tak heran jika sejumlah negara mulai mengajukan kerja sama dan permintaan pembelian alutsista (alat utama sistem senjata) Indonesia.

Revolusi Teknologi Digital dari Startup Lokal

Selain sektor pertahanan, teknologi digital juga mengalami perkembangan masif. Gelombang startup lokal yang bergerak di bidang kecerdasan buatan, big data, sistem pembayaran elektronik, hingga smart city menjadi magnet baru dalam ekosistem inovasi nasional. Bahkan beberapa di antaranya sudah dipercaya investor global dan mulai menembus pasar internasional.

Salah satu perkembangan paling membanggakan adalah adopsi kecerdasan buatan (AI) untuk sektor pendidikan, pemerintahan, dan industri. Startup edutech lokal misalnya, telah mengembangkan mesin pembelajaran adaptif yang digunakan di sekolah dan perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara personal dan berbasis data.

Di sektor layanan publik, penerapan sistem AI untuk pengolahan data, sistem identifikasi keamanan digital, serta integrasi layanan pemerintahan juga tengah bergerak cepat. Teknologi ini terbukti mampu menekan potensi kesalahan manusia, mempercepat proses pelayanan, dan menambah akurasi data.

Industri Kendaraan Listrik Nasional Memanas dan Mulai Jadi Pemain Serius

Tak hanya menunggu investasi asing, Indonesia kini juga mulai membangun sendiri ekosistem kendaraan listrik (EV). Pemerintah mendorong riset baterai berbasis nikel yang menjadi kekuatan utama cadangan mineral nasional. Indonesia bahkan sedang bergerak menjadi pusat hilirisasi nikel dunia yang mendukung industri baterai kendaraan listrik skala global.

Beberapa inovasi kendaraan listrik dari pabrikan dalam negeri seperti motor listrik gesit, mobil hybrid lokal, hingga bus listrik buatan Indonesia kini mulai beroperasi di kota-kota besar. Kehadiran teknologi ini bukan hanya menunjukkan kemampuan teknis bangsa, tetapi juga menunjang target besar pengurangan emisi karbon nasional.

Revolusi kendaraan listrik ini menjadi perhatian dunia karena Indonesia tidak hanya membangun ekosistem pengguna, tetapi juga mengendalikan bahan baku strategis yang dibutuhkan banyak produsen global. Hal inilah yang membuat sejumlah negara lain mulai memantau ketat langkah Indonesia dalam industri masa depan tersebut.

Satelit dan Teknologi Luar Angkasa Indonesia Tidak Bisa Lagi Diremehkan

Kemajuan lain yang juga membanggakan datang dari sektor penelitian antariksa. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) serta berbagai institusi mitra secara bertahap berhasil mengembangkan satelit komunikasi dan pengindraan jauh secara mandiri. Satelit Indonesia seri LAPAN-A, misalnya, memungkinkan kemampuan pemantauan bumi mulai dari deteksi kebakaran hutan, pengelolaan laut, pertanian cerdas, hingga manajemen data bencana.

Selain satelit, riset teknologi roket nasional juga terus berjalan. Meskipun Indonesia belum meluncurkan roket untuk orbit tinggi, kemampuan rekayasa dan manufaktur yang terus berkembang menjadikan Indonesia bukan lagi negara yang sekadar penonton dalam industri luar angkasa.

Kebangkitan Teknologi Lokal Menjadi Sinyal Kemandirian Baru

Perkembangan teknologi nasional yang bergerak cepat ini menjadi bukti bahwa Indonesia tidak lagi tertinggal. Negara lain yang selama ini nyaman memandang Indonesia sebagai pasar besar mulai menyadari bahwa kondisi telah berubah. Kini Indonesia berdiri sebagai produsen kompeten dengan potensi ekonomi berbasis inovasi yang mampu bersaing di level global.

Bagi pemerintah, momen ini harus dijaga dengan memperluas investasi riset, memperkuat SDM, membangun regulasi inovatif, serta memperkuat ekosistem agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Dunia telah menyaksikan bahwa teknologi Indonesia bisa berdiri sejajar dengan negara besar lain. Tinggal bagaimana langkah berikutnya dapat menjaga momentum ini agar terus berlanjut secara berkelanjutan.